Dijuluki Setan karena Ukuran Jumbo
Untuk mendatangkan pelanggan, banyak cara yang dilakukan
para pedagang bakso. Mulai racikan bumbu, mengemas ukuran bakso, sampai
menamainya lain daripada yang lain.
Untuk mereka yang belum tahu, memang tidak mudah menemukan tempat bakso jumbo yang dikenal dengan sebutan ’’bakso setan’’ yang berada di Jl. Mangga Gg. Kelapa Gading No. 62, Umbul Ra’up, Waydadi, Sukarame. Sebab, lokasinya berada di areal persawahan dan harus melalui jalan kecil berjarak 300 meter dari jalan besar.
Tidak hanya itu, reklame ataupun spanduk yang menjelaskan bakso setan pun tidak ada. Di rumah bercat biru itu hanya ada sebuah plang yang berdiri tegak di pinggir Jl. Bypass Soekarno-Hatta, yang bertuliskan ’’Bakso Mono’’. Tampak seorang wanita menggunakan jilbab putih sibuk melayani pembeli yang memang terlihat ramai.
Selidik punya selidik, Bakso Mono inilah yang dikenal masyarakat Bandarlampung sebagai bakso setan karena ukurannya yang besar. ’’Bapaknya lagi keluar, silakan tunggu saja, mungkin sebentar lagi juga pulang,” ujar wanita berjilbab itu yang belakangan diketahui bernama Sumini (39). Ia istrinya Mono, si pemilik usaha.
Tak lama menunggu, seorang pria menggunakan baju kaus dan celana dasar hitam datang. Setelah berkenalan dan mengetahui tujuan wartawan koran ini, Mono pun menceritakan awal mulanya mendapatkan ide untuk membuat bakso jumbo atau bakso setan ini.
Ayah dari Sekar Wulandari (19) dan Hamid Dwi Ismail (9) ini menuturkan, awal membuka kedai bakso itu dimulai 17 November 2002. ’’Saat itu saya sudah survei, di Lampung belum ada bakso yang dijual berukuran jumbo. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjualan bakso yang ukurannya berbeda dari biasanya,’’ kata dia.
Saat kali pertama mengenalkan usahanya itu, respons pembeli langsung membeludak. ’’Saya buat sampai 45 kilogram sehari. Namun, itu belum mencukupi permintaan pelanggan yang datang. Berapa yang dibuat selalu saja kurang,’’ tuturnya.
Nama bakso setan itu sendiri, lanjut Mono, bukan pemberiannya. ’’Pelanggan yang datang lah yang memberikan namanya. Ada yang bilang bakso kepala bayi. Tapi, yang paling banyak bilang bakso setan. Karena porsinya besar, makannya kayak orang kesetanan. Untuk satu mangkok, hanya bisa terisi satu bakso,’’ bebernya.
Namun pada tahun 2006, lanjut Mono, warung bakso miliknya yang buka dari pukul 10.00-22.00 WIB mulai sepi didatangi pelanggannya. Bahkan turun drastis. Hanya 10 kg per hari. ’’Selain pengaruh krisis global, saat itu muncul isu bakso babi. Lambat laun, isu tersebut berhenti sendiri,’’ terang pria asal Solo ini.
Masih menurut Mono, meski dikenal dengan bakso buatannya yang jumbo, kedainya tidak hanya menjual bakso berukuran besar. Tapi juga bakso berukuran kecil dengan berbagai pilihan, yakni isi telur, urat, dan daging.
Setiap satu porsi bakso setan ini dihargai Rp9 ribu. Sementara bakso kecil lainnya Rp6 ribu. Dan, ia menjamin baksonya tanpa bahan pengawet ataupun boraks. Karena BPOM pun pernah mengambil sampel bakso dari tempatnya.
Ia juga menceritakan sebelumnya pernah berjualan bakso yang sama di Pulau Jawa dari tahun 1983–1996. Lalu tahun 1997-1998 di Bandung dan 1998–2002 di Jakarta. ’’Hingga akhirnya saya memilih hijrah ke Bandarlampung. Kini saya bersyukur walaupun tidak memiliki anak cabang, tanah yang semula menyewa sekarang sudah milik sendiri dan anak saya bisa kuliah,’’ katanya.
Steven (24), salah satu konsumen bakso setan, kepada Radar Lampung mengatakan sudah menjadi pelanggan sejak kali pertama kedai itu buka. ’’Rasanya enak dan ukarannya jumbo. Awalnya saya juga tahu dari teman-teman. Karena penasaran seperti apa bakso setan tersebut, saya mencoba dan kini malah ketagihan,’’ tuturnya. (bersambung)
Untuk mereka yang belum tahu, memang tidak mudah menemukan tempat bakso jumbo yang dikenal dengan sebutan ’’bakso setan’’ yang berada di Jl. Mangga Gg. Kelapa Gading No. 62, Umbul Ra’up, Waydadi, Sukarame. Sebab, lokasinya berada di areal persawahan dan harus melalui jalan kecil berjarak 300 meter dari jalan besar.
Tidak hanya itu, reklame ataupun spanduk yang menjelaskan bakso setan pun tidak ada. Di rumah bercat biru itu hanya ada sebuah plang yang berdiri tegak di pinggir Jl. Bypass Soekarno-Hatta, yang bertuliskan ’’Bakso Mono’’. Tampak seorang wanita menggunakan jilbab putih sibuk melayani pembeli yang memang terlihat ramai.
Selidik punya selidik, Bakso Mono inilah yang dikenal masyarakat Bandarlampung sebagai bakso setan karena ukurannya yang besar. ’’Bapaknya lagi keluar, silakan tunggu saja, mungkin sebentar lagi juga pulang,” ujar wanita berjilbab itu yang belakangan diketahui bernama Sumini (39). Ia istrinya Mono, si pemilik usaha.
Tak lama menunggu, seorang pria menggunakan baju kaus dan celana dasar hitam datang. Setelah berkenalan dan mengetahui tujuan wartawan koran ini, Mono pun menceritakan awal mulanya mendapatkan ide untuk membuat bakso jumbo atau bakso setan ini.
Ayah dari Sekar Wulandari (19) dan Hamid Dwi Ismail (9) ini menuturkan, awal membuka kedai bakso itu dimulai 17 November 2002. ’’Saat itu saya sudah survei, di Lampung belum ada bakso yang dijual berukuran jumbo. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjualan bakso yang ukurannya berbeda dari biasanya,’’ kata dia.
Saat kali pertama mengenalkan usahanya itu, respons pembeli langsung membeludak. ’’Saya buat sampai 45 kilogram sehari. Namun, itu belum mencukupi permintaan pelanggan yang datang. Berapa yang dibuat selalu saja kurang,’’ tuturnya.
Nama bakso setan itu sendiri, lanjut Mono, bukan pemberiannya. ’’Pelanggan yang datang lah yang memberikan namanya. Ada yang bilang bakso kepala bayi. Tapi, yang paling banyak bilang bakso setan. Karena porsinya besar, makannya kayak orang kesetanan. Untuk satu mangkok, hanya bisa terisi satu bakso,’’ bebernya.
Namun pada tahun 2006, lanjut Mono, warung bakso miliknya yang buka dari pukul 10.00-22.00 WIB mulai sepi didatangi pelanggannya. Bahkan turun drastis. Hanya 10 kg per hari. ’’Selain pengaruh krisis global, saat itu muncul isu bakso babi. Lambat laun, isu tersebut berhenti sendiri,’’ terang pria asal Solo ini.
Masih menurut Mono, meski dikenal dengan bakso buatannya yang jumbo, kedainya tidak hanya menjual bakso berukuran besar. Tapi juga bakso berukuran kecil dengan berbagai pilihan, yakni isi telur, urat, dan daging.
Setiap satu porsi bakso setan ini dihargai Rp9 ribu. Sementara bakso kecil lainnya Rp6 ribu. Dan, ia menjamin baksonya tanpa bahan pengawet ataupun boraks. Karena BPOM pun pernah mengambil sampel bakso dari tempatnya.
Ia juga menceritakan sebelumnya pernah berjualan bakso yang sama di Pulau Jawa dari tahun 1983–1996. Lalu tahun 1997-1998 di Bandung dan 1998–2002 di Jakarta. ’’Hingga akhirnya saya memilih hijrah ke Bandarlampung. Kini saya bersyukur walaupun tidak memiliki anak cabang, tanah yang semula menyewa sekarang sudah milik sendiri dan anak saya bisa kuliah,’’ katanya.
Steven (24), salah satu konsumen bakso setan, kepada Radar Lampung mengatakan sudah menjadi pelanggan sejak kali pertama kedai itu buka. ’’Rasanya enak dan ukarannya jumbo. Awalnya saya juga tahu dari teman-teman. Karena penasaran seperti apa bakso setan tersebut, saya mencoba dan kini malah ketagihan,’’ tuturnya. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar